Hipoglikemia

Apa itu hipoglikemia???

Hipo=sedikit

Glikemia=glukosa darah

Hipoglikemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar normal glukosa(gula) darah.

Kriteria diagnosisnya menurut Whipple’s:

1. Ada gejala-gejala hipoglikemia seperti pusing, lemas, gemetar, berkeringat, dsb

2. Konsentrasi plasma glukosa yang rendah(dalam hasil pemeriksaan laboratorium)

3. Hilangnya gejala setelah level glukosa darah meningkat (setelah pemberian glukosa)

Emang apa sih pentingnya glukosa dalam tubuh kita???

Glukosa sendiri adalah bahan bakar metabolisme yang harus ada, mutlak, untuk otak kita dapat berfungsi normal. Jadi, fungsi otak sendiri tentunya akan berkurang kalau energy hasil metabolism glukosa tidak ada atau minim. Sedangkan, organ tubuh yang lainnya seperti otot masih dapat menggunakan asam lemak jika glukosa darah turun.

Kandungan glukosa darah bergantung pada intake makanan dan tingkat akivitas tubuh. Keseimbangan glukosa darah diregulasi oleh satu mekanisme biokimia rumit yang namanya glikolisis dan glukogenesis . Dalam kondisi membutuhkan energy, tubuh praktis menjalankan fungsi glikolisisnya (glikogen dipecah ke bentuk glukosa) ,,untuk memenuhi cakupan glukosa ke jaringan. Pun sebaliknya, jika tubuh kelebihan glukosa, glukosa ini akan mengalami proses glikogenesis untuk kemudian disimpan dalam bentuk glikogen.

Oya, ada satu lagi proes yang namanya glukoneogenesis. Proses ini akan berlangsung jika cadangan glukosa dalam bentuk glikogen sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan tubh lagi. Nantinya, glukosa akan dibentuk dari zat2 lain seperti asam laktat, piruvat, dll.

Nah, proses-proses rumit tersebut diatas bukan tanpa suatu mekanisme pengaturan. Fungsi dari proses-proses itu kemudian diatur oleh satu sistem yang dinamakan sistem endokrin yang melibatkan hormon. Yaitu dengan fungsi insulin dan glucagon (nantinya, insulin akan sangat erat hubungan kekerabatannya dengan penyakit mengerikan yang namanya DIABETES).

Hmmm, menarik yah… Kalau mau tau lebih jelas giman prosesnya,silahkan baca sadja buku biokimia Harper’s(buku yang sangat kurang saya senangi..T.T)

Laluu… Kalau glukosanya kurang emang kenappa???

Seperti yang sudah dijlaskan sebelumnya, glukosa merupakan bahan baku energy yang penting untuk mempersenjatai OTAK kita. Kalau ga ada glukosa, praktis akan muncul kekacauan fungsi, kerusakan jaringan, bahkan kematian sel-sel otak (jika tidak ditangani dalam waktu laama..).

Tau sendiri kan, fungsi otak kita apa…

Lantas, apa saja sih yang bisa menyebabkan kadar glukosa turun?

Diantara penyebabnya adalah…

1. Nutrisi yang tidak cukup (kurang makan, kelaparan, kurang energy karbohidrat)

2. Kekurangan hormone (hipohifofisisme, insufisiensi adrenal, defesiensi katekolamin, glucagon)

3. Defesiensi substrat (kelainan nutrisi berat, kehamilan lanjut)

4. Penyakit hati

5. Konsumsi obat-obatan (pentamidine, quinine, propranolol, salisilat, insulin) termasuk juga konsumsi alkohol

6. Hiperinsulinemia (kelebihan insulin di darah)

7. Tumor

Apa gejala yang bisa terlihat dari seseorang yg hipoglikemia?

Ada dua kategori respon ..

hypoglycemia_graph1

1. Respon neuroglikopenia à hasil langsung dari penurunan glukosa di Susunan Saraf Pusat

Gejalanya: perubahan perilaku dan status mental, kebingungan, mudah lelah, kejang, hingga hilangnya kesadaran. Bahkan, kalau terjadi dalam jangka waktu yang lama bisa mengakibatkan KEMATIAN

2. Respon neurogenik (otonom)

Gejalanya: palpitasi (jantung terasa berdebar cepat), cemas, tremor(bergetar, terutama terlihat di ujung jari), berkeringat, lapar, dan kesemutan

Tanda-tanda umum meliputi pucat (terutama terlihat di wajah, bibir, kelopak bawah mata, kuku) dan berkeringat, peningkatan denyut nadi dan tekanan darah sistolik.

Biasanya, penderita hipoglikemia punya riwayat “belum makan”, atau “aktivitas fisik terlalu berat”. Seringnya, kasus hipoglikemia ditemukan saat masa OSPEK atau sejenisnya. Buat yang aktif di kabinet mahasiswa dan akan menjalankan OSPEK untuk adik2nya, tolong diperhatikan kondisi makan adik2nya. Jangan sampai peserta disuruh datang pagi buta, akhirnya mereka ga sempet makan. Atau kegiatan yang menabrak waktu makan, akhirnya kebutuhan makan peserta ga tercukupi…

Lalu, kalau ada aktivitas lapangan yang sekiranya berat seperti outbond dll, pastikan peserta dibekali dengan minuman dan makanan yang manis-manis. Biasanya kalau saya suka disuruh bawa gula merah atau air gula.

Terapi apa sih, yang bisa kita berikan untuk pertolongan pertama hipoglikemia?

1. Berikan glukosa (gula) melalui mulut dalam jumlah yang banyak. Bisa dengan cara member air gula, teh manis, permen, atau makanan lain yang kita yakini mengandung gula (dodol misalnya?? Hehe, bercanda aja,,,). Bisa juga dengan memberikan roti, karena kadar glukosa dalam roti cukup tinggi.

2. Kalau korbannya tidak sadar? Hal yang penting untuk diingat adalah JANGAN MEMBERIKAN APAPUN LEWAT MULUT!!! Salah-salah bisa menyebabkan tertutupnya jalan nafas korban, akhirnya menyebabkan tiiiiiiiittttt(kalau di film2 biasanya ditunjukkan dengan garis lurus di alat pendeteksi detak jantung pasien, hehe). Jadi gimana? Ini sih nice to know aja, karena yang bisa melakukan prosedur ini cuma tenaga medis (panggil tenaga medis atau ambulance segera!!!). Glukosa bisa diberikan lewat selang infuse berupa dextrose 50% 25-50 g.

3. Inti dari penanganan hipoglikemia adalah penanganan cepat dan tepat. Karena pada dasarnya P3K untuk hipoglikemi relatif mudah (kecuali kalau pasiennya ga sadar, harus didahului dengan prosedur Basic Life Support)

Yah… begitulah..

Kalau ada info yang ga tepat atau sesat, tolong beri tahu saya ya,,agar bisa diperbaiki…^^

Saya hanya mahasiswa kedokteran yang pernah belajar tentang Bantuan Medis Dasar yang ingin sedikit berbagi…

Segenggam Garam Kehidupan



Ada seorang tua yang bijak. Suatu pagi ia kedatangan anak muda. Langkahnya gontai. Air mukanya ruwet. Ia seperti sedang dirundung masalah. Anak muda itu menumpahkan semua masalahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Setelah tamunya tuntas bercerita, tiba – tiba orang tua itu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas. Diaduknya perlahan.

“Minum dan katakan bagaimana rasanya!” kata Pak Tua itu singkat.

“Puih…!” Sang tamu meludah ke samping. “Asin sekali. Tenggorokanku seperti tercekik,” kata Si Pemuda lagi.

Pak Tua itu tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ke tepian telaga di dalam hutan tak jauh dari tempat tinggalnya. Pak Tua itu menaburkan segenggam garam ke telaga. Dengan sepotong kayu diaduknya telaga.

“Ambil air dari telaga ini dan minumlah!” Setelah Si Pemuda selesai meneguk air itu Pak Tua bertanya, “Bagaimana rasanya.”

“Segar,” jawab pemuda itu.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”

“Tidak.”

Pak tua itu tersenyum bijak. Ia tepuk punggung Si Pemuda dengan lembut. Dibimbingnya anak muda itu duduk bersimpuh di sisi telaga.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layak segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama,” Tutur Pak Tua.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung pada wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan terasakan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua menatap Si Pemuda lembut. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

(Taken from “Kekuatan Cinta”, Irfan Toni Herlambang)

Baca deh bukunya,,, bagus banget!! =)

Hanya Isi Kepala Saya (Bukan Otak Tapi...)

Awalnya, saya ga punya keinginan yang kuat buat jadi seorang dokter. Dulu, buat saya, duduk berjam-jam di depan meja gambar sambil menciptakan rancangan-rancangan rumah yang unik tampak lebih menyenangkan daripada duduk menyapa orang sakit, mendengarkan keluhannya, memeriksa kondisi fisiknya, dan memutar otak untuk menegakkan diagnosis. Yah, semuanya tidak tampak menarik, bahkan hingga saya habiskan tahun pertama saya di FK Unpad.


Di tahun-tahun pertama, saya masih terus dibayang-bayangi cita-cita yang sudah saya miliki –bahkan sejak anak2 seusia saya hamper seragam menjawab “dokter” jika ditanya tentang cita2 mereka- sejak dulu kala…(beuh…berlebihan bahasanya..). Mungkin ga sedikit juga teman2 saya yang mengalami hal serupa di tahu pertama mereka. Wajar saja, di tahun pertama kami dijejali segaaala hal2 baru yang menurut saya sedikit gaib. Biokimia, genetika, anatomi, patofisiologi,,de-el-el-de-el-el yang belum menampakkan dunia kedokteran secara menyeluruh. Bahkan di tahun pertama saya mulai berfikir ”Kenapa sih banyak orang yang rela menceburkan dirinya di dunia kedokteran???” Padahal saya merasa ga terlalu istimewa ah, jadi dokter…. Banyak hal yang harus dipelajari dengan ribuan refference books, tutorial berjam-jam, tuntutan long life learning, sampai terfikirkan oleh saya mengenai undang-undang praktek kedokteran yang mungkin akan mengekang… Hyaaa….kenapa banyak yang mau merelakan hidup mereka ’menderita hanya demi hal2 tadi…


Semakin lama berada di FK semakin pusiing…(tapi bukan itu yang mau saya ceritakan di sini)

Yah…pada akhirnya, semua pertanyaan&keraguan hati saya terjawab oleh sang waktu….(memang…kadang ada hal2 tertentu yang hanya bisa dirasakan, dan tidak akan pernah terjawab oleh logika). Saya mulai tahu untuk apa saya ada di FK sekarang, belajar dengan sepenuh hati(meski masih banyakan malesnya..hehe), dan mulai mencintai apa yang saya lakukan.

Di dunia ini-ga usah di dunia deh, di Bandung misalnya- udah bertebaran dokter2…bahkan sampai level superspesialis, dan kalo dipkir2, kayanya ga ada tempat lagi deh buat dokter2 baru…Tapi yang saya&teman2 saya sadari…belum banyak dokter yang memang bekerja untuk pure menolong yang membutuhkan yang dedicatio pro humanitate(bener ga ya, tulisannya???).


Masih banyak dokter yang berorientasi materi, menolak pasien2 yang miskin, yang they’ll do anything for money…(ga semua dokter kaya gitu…banyak yang baik juga sih..)pokoknya hal2 yang dalam idealisme saya sebagai seorang mahasiswa kedokteran tertolak baik secara logika maupun nonlogika. Bukan berarti jadi dokter ga boleh menarik bayaran juga sih…karena bagaimanapun juga dokter butuh uang untuk misalnya merawat alat2 praktek mereka, menggaji perawat, petugas tata usaha, petugas kebersihan, dll-dll.


Yahh…kadang bingung kalau berfikir tentang hal ini… tentang Kenapa ada dokter yang berorientasi materi, saya sudah menemukan satu trigger utamanya yang sekaligus harus jadi strategi saya di kehidupan saya nanti sebagai –insya4Wl- dokter. Satu hal yang sudah terjawab adalah karena dokter2 itu tidak memiliki penghasilan lain selain dari kliniknya…masuk logika kan??


Saya pernah diceritakan oleh seseorang…saya lupa siapa…tentang kehidupan seorang dokter yang luar biasa kaya raya bukan dari profesinya sebagai seorang dokter. Di kehidupan lainnya, selain sebagai dokter, dokter tersebut ternyata menjalakan bisnis yang berfungsi sebagai msin uangnya…Ratusan juta bisa beliau dapat dari bisnisnya itu dalam sebulan(yang belum tentu bisa didapat oleh dokter2 biasa…) Subhanallah, dengan uang yang beliau dapat dari bisnisnya itu beliau bisa menjalankan perannya sebagai dokter yang sebenarnya. Bagi beliau, membebaskan biaya untuk pasien yang tidak mampu menjadi satu hal yang sangat kecil, tidak perlu pertimbangan berjam-jam untuk melakukannya. Bahkan, beliau juga sering mengadakan pengobatan gratis untuk masyarakat kurang mampu… Begini nih harusnya seorang dokter…keren pisann…


Visi saya pun berkembang lagi dari menjadi dokter yang berdedikasi menjadi seorang yang kaya raya yang berprofesi sebagai dokter yang berdedikasi… Beda kan dengan dokter kaya yang blabla…(berarti dia kaya karena dia dokter…)


Meluap-luap nih…maklum, mahasiswa..

Semoga idealisme yang menancap di diri saya saat ini terus terbawa hingga ke kehidupan tua saya…aamiin…

It is Very (very, very, very) Hard to Start it From the Very Beginnig

Yap…ketika kita sudah kehilangan satu saja momen yang biasa kita lakukan, kita akan sangat sulit untuk memulainya lagi. Sebut saja contoh simpelnya…Qiyamu Lail alias menegakkan malam atau sederhananya kalau di kamus otak saya definisinya adalah bangun di malam hari untuk-Nya(bisa shalat, tilawah, baca2 buku Islam…). Saya merasakan perjuangan yang amat sangat berat untuk menjadikannya sebuah kebiasaan. Menurut teori, untuk mengubah suatu hal menjadi kebiasaan itu membutuhkan waktu sekitar 40 hari (melakukan hal itu secara terus-menerus). Ketika satu hari saja terlewat untuk bangun di malam hari entah karena malas atau hal lain, pasti yang dirasakan untuk bangun malam pada hari berikutnya akan lebih sulit… Try harder to realize it..


Sekarang saya sedang berusaha untuk menerapkan konsep yang 40 hari itu untuk membiasakan lagi membaca buku..selain textbook kuliah tentunya.. Buku2 di rak mulai memanggil-manggil untuk dibaca..(berle!). Bahkan Harry Potter#7 yang sudah setahun saya pinjam belum juga dibaca…tumben2 nih…

Entah mengapa sejak saya masuk dunia perkuliahan, waktu saya untuk membaca buku seolah tidak tersisa lagi. Padahal, setiap harinya selalu ada waktu luang yang bisa dimanfaatkan. Sambil menunggu perkuliahan dimulai, menanti rapat(??), istirahat tutorial, jeda waktu antara ashar-maghrib, lebih2 kalau sedang gugur kewajiban shalat…dst dst.. Tapi, semua waktu luang itu seolah enggan saya gunakan untuk membaca. Saya cenderung (akhir2 ini) lebih memilih duduk terkantuk-kantuk di ruang tutorial, atau mengisi perut yang berkukuruyuk di kantin, atau bahkan hanya duduk2 di ruang toturial sambil menunggu tutor datang(wasting time pisan lah…). Selalu ada alasan untuk bermalasan…waduh… makin tua kok makin a produktif yah??!

Baru menyadari akhir-akhir ini… Setelah 3 setengah tahun berada di FK…Kok rasanya ilmu saya segitu-segitu aja yah?? Payah… Sering kebingungan mencari jawaban pertanyaan2 adik mentor, bingung memilih kata2, bingung menanggapi curhatan…bingung kalau tiba2 disuruh bertausyiyah… apa lagi penyebabnya kalo bukan karena makin sedikit info yang masuk ke kepala saya… atau jangan2 otak saya udah mulai degenerasi,waduhh… Seolah-olah yang berputar-putar di kepala saya sekarang hanya embriologi ini-itu, anatomi, fisiologi, patologi, farmako, differential diagnosis, CHOP, CRP… Bahaya nih…lama2 karatan deh nih otak terus-terusan disirami “zat-zat korosif” kaya gitu..hehe…
Masih banyak hal2 yang harus dimulai secepatnya…

Semangat Gin!!! Belum tentu ada hari esok buat kamu…
Just do it now..

Kerja Keras Itu...

25 Januari 2008

Siang ini, di kantin, seperti biasanya saya melihat bapak tua itu. Bapak tua yang setiap harinya berjualan Koran Pikiran ****** di lingkungan kampus. Seperti biasanya, bapak tua itu mulai menjajakan korannya. “Neng, korannya Neng…”

Sedih rasanya tiap melihat bapak itu. Jika bisa, ingin rasanya saya memborong semua korannya sehingga bapak itu bisa cepat pulang ke rumahnya dan beristirahat saja di hari tuanya. Kalau dikira-kira, mungkin usianya sudah sekitar 65-70 tahun. Hhh…saya jadi sering menebak-nebak apakah bapak tua itu punya anak atau cucu yang sebenarnya bisa menopang hidup bapak itu di masa tuanya. .

Satu hal yang saya kagumi dari beliau adalah kerja kerasnya. Disaat kakek2 seusia beliau yang bernasib sama dengan beliau memutuskan untuk meminta-minta di pinggir jalan, beliau tetap berfikir untuk berusaha mendapat uang dengan cara yang baik. Kalau hari ini saya melihat beliau berjualan Koran, di hari-hari OSPEK saya melihat beliau berjualan pita dan tali sepatu warna-warni. Lalu di hari lainnya beliau berjualan alpukat di sekitar kampus UNPAD, bahkan beliau juga pernah menjajakan madu botolan. Subhanallah…semangat seakan tak pernah lekang dari wajah tuanya yang sudah keriput itu…

Saya malu jika membandingkan diri saya dengan beliau. Dengan segala kecukupan dan fasilitas hidup yang diberikan oleh orang tua, saya masih sering bermalasan. Entah itu untuk belajar, atau another little thing yang sebenarnya sangat mudah untuk saya lakukan. Selalu ada celah untuk menanti-nanti pekerjaan. Selalu ada alasan untuk melarikan diri dari pekerjaan. Hfff…

Hayu ah berubah… malu juga kalah sama kakek2.. ;)

Got the point??

(Terlalu) Banyak Celah Untuk Bersyukur^^

.:Repost tulisan tanggal 25 Januari 2008:.

Sore ini, sepulang kuliah, saya buru-buru pulang ke tempat kost. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 15.30 saat saya keluar dari kamus. Yap! Harus bersegera nih, berencana untuk pulang ke Bekasi setelah mengambil beberapa barang di tempat kos.

Jam 16.00, saya keluar dari tempat kost. Mencapai daerah Cicalengka dengan angkot untuk kemudian menunggu bis Bud**an dari arah timur. Haha, beruntung sekali saya kali ini. Biasanya perlu sekitar 30menit untuk menunggu yang dinanti-nantikan datang. Saya bersegera naik. Culsng-cileung di dalam bis,,,mencari kursi yang kosong. Ja…Cuma ada satu kursi kosong di belakang. Itupun terlihat sangat sempit karena bapak2 yg duduk di belakang ‘menghabiskan’ satu porsi itu untuk kenyamanan dirinya masing-masing. Terpaksa duduk di kursi paling belakang..dengan bapak2 di kana-kiri saya.

Bispun mulai melaju. Sejak tad saya sudah merasa kurang nyaman dengan posisi duduk saya. Saya sama sekali tidak bisa menyandarkan diri saya ke kursi dan ditambah dengan porsi kursi saya yang sangat sedikit membuat saya duduk hanya dengan separuh kursi. Daripada saya menunggu bis lain dan sampai di Bekasi lewat maghrib, lebih baik saya bersabar… Pikir saya.

Dua jam di dalam bis membuat punggung saya terasa sangat sakit juga ketidaknyamanan lain akibat penumpang yang duduk di paling pinggir mulai membuka jendela sehingga angin mulai membuat saya mual. Padahal bis AC nih… hfff, saya terus menggerutu dalam hati. Benar-benar perjalanan yang tidak menyenangkan.

Untuk mengusir rasa kesal, saya mulai menyalakan MP3 yang memang sengaja saya bawa. Lagu demi lagu berputar, sampai akhirnya terdengar satu lagu nasyid yang bahkan judulnya pun saya tidak tahu..hehe, tulisannya sih track 02. Tapi saya suka lagu ini…

….060924_muslim

Berjalan di sekeliling alam sepanjang perjalanan

Jemu kala ku membaca pesan kebesaran Illahi

Segalanya telah nampak sempurna

Gunung, lading, air, angkasa raya

Hanya satu kata yang bisa kuucap

Maha suci Allah pencipta alam semesta ini..

Berarak pohon di tepi jalan sepanjang perjalanan

Sejuknya sampai hinggapi hati membuatku bahagia

Segalanya telah nampak sempurna

Gunung, ladang, air, angkasa raya

Hanya satu kata yang bisa kuucap

Maha suci Allah pencipta alam semesta ini..

****

Terdiam…

Hmm, saya mulai memperhatikan sisi jalan tol yang saya lalui. Scene-nya persis lagu yang saya dengar. Pohon-pohon dengan gagahya berdiri di sepanjang jalan.. Sawah…kebun teh.. Subhanallah indah meski hanya pemandangan dari jalan tol. Hiang sedikit demi sedikit rasa kesal saya.. brganti rasa takjub yang luar biasa seakan-akan saya tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.

“.. memang luar biasa perkara seorang muslim. Apabila ditimpa musibah dia bersabar, apabila diberi nikmat dia bersyukur..”(ini bukan kata saya loh..tapi isi hadits, Cuma saya agak lupa redaksi kata-katanya..afwan^^)

Seseorang pernah berkata, “di setiap waktu yang kita jalani, hanya dua hal yang harus kita lakukan untuk menyikapinya. Bersyukur saat diberi nikmat dan bersabar bila diberi musibah”. Jadi di setiap waktu yang kita lalui, tanyakanlah pada diri kita, apakah kita sedang bersyukur atau bersabar??? Saat saya menulis ini jelas saya seharusnya sedang penuh dengan rasa syukur. Bersyukur masih diberikan tangan dan mata serta hati sehingga saya bisa menuangkan isi pikiran saya ke dalam tulisan. Karena beberapa saat yang lalu, saya baru saja menonton sebuah film tentang dokter yang pasiennya mengalami pembusukan di tangan akibat diabetes yang dideritanya sehingga tangannya terpaksa diamputasi untuk tindakan live saving. Tidak pernah terbayangkan oleh saya hidup tanpa tangan… Alhamdulillah…masih punya tangan..lengkap lagi^^

Most of all, pada dasarnya, hal2 yang harus kita syukuri lebih banyak daripada yang harus kita sabari. Bahkan Rasulullah saw.yang sudah dijamin Allah masuk surga tertinggi sekalipun masih menjalankan shalat sampai kakinya bengkak2. Ketika ditanya oleh Aisyah ra.mengapa beliau masih melakukan hal itu padahal sudah dijamin masuk surga, beliau menjawab dengan mantap “Apakah aku tidak boleh bersyukur??”

Astaghfirullah..saya yang manusia biasa aja masih sering lupa bersyukur… Termasuk ketika saya mengalami hal yang tidak mengenakkan ini. Bukannya bersabar, saya malah marah-marah dalam hati. Astaghfirullah…

Empat Tahun di Fakultas Kedokteran... Apakah Cukup??

Teringat cerita salah seorang dosen senior di kampus tentang masa kuliahya. Saat itu(pokoknya mah jadul abis…), beliau menghabiskan waktu sekitar 6 tahun untuk meraih gelar dokter-mudanya(baca: S.Ked). Beuh…lama bener ya, kalau dipikir-pikir… Keburu menjamur di FK.. Belum lagi program P3D yang harus dilalui setelahnya alias ko-asistensi… Benar-benar terasa perjuangannya..

Sekarang, untuk angkatan saya, butuh waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran. Ditambah dua tahun ko-as+magang di puskesmas atau rumah sakit jejaring. Dan untuk angkatan 2008, hanya butuh waktu 3,5 tahun untuk bisa angkat kaki dari FK Jatinangor kemudian 2,5 tahun ko-as plus magang di RSHS dan jejaringnya. Pertanyaan yang muncul,,

”Apakah cukup waktu 4 tahun untuk menguasai dasar-dasar ilmu kedokteran sebelum memasuki dunia praktis???”

Saya merasa 4 tahun sangat-sangat tidak cukup untuk menamatkan min. Buku-buku referensi utama, dengan jumlah textbook yang bejibun dan kesibukan lain yang tak terelakkan. Bukan berarti saya ingin lebih lama di FK sih, tapi saya jadi berfikir, apakah ini semua semata-mata hanya atas dasar keterburu-buruan untuk mencetak dokter-dokter baru? Kadang jadi khawatir, apakah kualitas dokter-dokter generasi baru akan bisa mengimbangi kualitas dokter-dokter senior??

Sebenarnya kalau secara keilmuan, jelas tidak bisa disandingkan antara dokter senior dengan juniornya. Karena jam terbang dalam dunia kedokteran praktis memengaruhi tingkat ketahuannya akan ilmu kedokteran. Mungkin, bedanya terletak pada kedalaman ilmu yang bisa dicapai oleh beda generasi ini.

Zaman dulu, seorang mahasiswa kedokteran dijejali dengan ilmu-ilmu dasar di tahun-tahun S1nya. Biokimia, Fisika, biologi, anatomi, faal, patologi, dll semuanya dipelajari dengan mendalam dalam waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan angkatan saya sekarang. Bedanya yang lain, terletak pada integrasi dari masing-masing ilmu yang dipelajari itu. Jaman baheula, seorang calon dokter baru akan disuguhi dengan kondisi yang mengharuskan mereka berpola pikir layaknya dokter setelah mereka menghabiskan 6 tahunnya di pendidikan sarjana alias saat mereka ko-asistensi. Sekarang, kami harus menerapkan pola pikir seorang dokter ini sejak kali pertama kami menjejakkan kaki di Fakultas Kedokteran. Artinya, kami memang sejak awal dibiasakan berpikir seperti seorang dokter yang sedang berusaha menyembuhkan pasien yang datang dengan berbagai keluhan. Ada baiknya juga sih, pengenalan sejak dini. Karena itu akan membentuk pola pikir “I have to know why..” dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan provokatif “mengapa begini? Mengapa begitu?”. Tapi, sistem seperti ini saya nilai terlalu dini jika benar-benar diperkenalkan sejak tahun pertama. Karena, basic kami di dunia kedokteran benar-benar masih NOL BESAR dan akhirnya malah sering menimbulkan kebingungan yang luar biasa di tahun pertama saya.

mini-bronze-love-of-learning-melissa-cowan

Terlepas dari itu semua, pertanyaan “Apakah empat tahun cukup?” sepertinya menjadi sangat kondisional, mengingat sistem yang kami gunakan pun jelas berbeda dengan yang “dianut” oleh dosen-dosen senior kami di kampus. Tapi, buat saya, jelas empat tahun tidak cukup untuk bisa mendalami ilmu kedokteran secara holistik. Maka dari itu, saya baru sadari sekarang betapa pentingnya prinsip “Long Life Learning” yang sudah diperkenalkan sejak kami menjalani masa orientasi. Empat tahun, delapan tahun, bahkan dua puluh tahun sekalipun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan rasa haus ilmu para dokter. Karena, bukankah ilmu Allah sangat luas?? Tiap hari, bahkan, ilmu itu terus berkembang. Dan di dunia kedokteran sendiri, setiap harinya muncul ribuan jurnal baru yang harus terus diupdate oleh seorang dokter untuk mengupdate imunya.

Hmm…interesting, but sometimes it makes me afraid. Bertanya-tanya apakah saya mampu untuk menjadi seorang Long Life Learner atau tidak?? Apakah saya bisa menjadi seorang dokter yang pintar luar biasa dan berperilaku sangat baik dalam menangani pasien atau tidak? Wallahu a’lam bishshawab. Semoga bisa terus maju dalam menapaki jalan ini. Heu..

Urgensi INSYAA ALLAH

.:Repost dari blog saya yang lama.. hehe:.


Baca untuk ke berapa kalinya buku “Membangun Ruh Baru” karangan Musyaffa Abdurrahim.. Teringatkan lagi tentang pentingnya berkata “insya Allah”. Namanya manusia, mungkin kita tahu, bahwa kita boleh saja merencanakan segala sesuatu, memikirkan berbagai hal, menganggap suatu hal sangat sempurna hingga kita berfikir kalau kita sudah mengetahui akhir dari sesuatu, tapi kita sering terlupa bahwa ada Sang Empunya Langit dan Bumi yang berkehendak atas segala sesuatu. Maka tak jarang, kita sesumbar berucap “ya, saya pasti datang”, “oke, Senin saya bereskan pekerjaannya”, atau “sip lah, semuanya gampang diatur…”.

Sebenarnya, seorang Muslim harus memiliki sifat optimis (tafa’ul atau raja’), tapi kita sering terlupa bahwa sifat optimis tadi kudu diimbangi dengan rasa ‘adamul amni min makrillah (tidak merasa aman dari makar Allah) dan juga khauf (takut). Betapa Allah sudah menciptakan dunia ini dengan segala kesempurnaannya, menciptakan segala sesuatu berpasangan, tentunya agar semuanya seimbang.

Ada satu kisah yang menggambarkan betapa pentingnya berkata “insya Allah”. Suatu hari, Rasulullah saw.ditanyai oleh kafir Quraisy tentang tiga hal:

1. Bagaimana kisah ashabul kahfi?

2. Bagaimana kisah Dzul Qarnain?

3. Apa yang dimaksud dengan ruh?

Mendapati pertanyaan tersebut, Rasulullah saw.menjawab, “Besok akan saya ceritakan dan saya jawab”. Ada satu hal penting yang terlewat, beliau lupa mengucapkan insya Allah. Akibatnya, wahyu yang biasanya turun kepada beliau setiap mendapati masalah, tertunda selama 15 hari. Sedangkan kaum Quraisy terus menagih-nagih janji beliau tentang hal yang mereka pertanyakan itu.

Rasulullah saw.sangat sedih kejadian itu. Barulah setelah lima belas hari, Allah menurunkan jawaban atas pertanyaan itu melalui surat Al-KAhfi: 23-24.

“Janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok,’ kecuali dengan mengatakan insya Allah.”(QS. Al-Kahfi: 23-24)

Mungkin kita bertanya-tanya, “Bukankah Rasulullah saw.telah diampuni dosanya baik yang telah lalu dan yang akan datang? Lalu, mengapa Allah menghukum Rasulullah saw. sampai sebegitu beratnya??” di buku dijelaskan, bahwa itu semua tujuannya semata-mata 1). Agar bisa menjadi pelajaran untuk kita, manusia, terutama yang hidup jauuh dari zaman ketika Rasulullah masih hidup. Rasulullah saw. Yang paling Allah cintai aja ditegur dengan sangat keras, apalagi kita, manusia biasa yang mungkin keimanan kita masih sangat jauh dari standar. Alasan yang ke 2). Karena Rasulullah saw. Adalah orang yang mempunyai kedekatan dengan Allah. Jadi, di buku disebutkan, ada hal-hal tertentu yang untuk orang-orang abrar (orang yang baik-baik) dinilai sebagai hasanat (kebaikan), namun bagi orang-orang berkelas muqarrab (yang dekat dengan Allah dan menjadi kekasihNya) akan dinilai sebagai suatu sayyiat (keburukan).

Masih ada kisah lain yang ditampilkan di buku. Yang lainnya adalah kisah nabi Sulaiman as, nabi Musa as, dan nabi Ismail as. Semuanya menggambarkan dengan cukup jelas, betapa mengucapkan “insya Allah” merupakan hal yang dinilai oleh Allah sangat urgen. Kita lihat saja tadi, betapa manusia sekelas Rasulullah saw. saja ditegur Allah dengan sangat keras hanya karena lupa mengucap insya Allah.

Semoga teringatkan kembali…dan mulai membentuk kebiasaan mengucap insya Allah…

statistika

Entri Populer

Mutiara Illahi

"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayanya adalah ibarat misykat yang didalam misykat itu ada pelita yang besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu laksana bintang yang bercahaya sekilau mutiara. Ia dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh barakah. Pohon zaitun yang tumbuh bukan di timur tidak pula di barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala meski tiada api yang menyentuhnya. Cahaya diatas cahaya! Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Ia kehendaki. Allah membuat perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala."(Q.S. An-Nur 35)

komenkamu


ShoutMix chat widget

inget Allah yuk..

The Traveller..

Foto saya
Manusia biasa yang ingin menjadi luar biasa. Tidak biasa tapi ingin membiasakan diri menulias... Masih kuliah, dan masih agak lama sepertinya untuk lulus.. Tapi yang namanya proses itu harus dinikmati.. So,i enjoy my journey to be a doctor..^^

waktu terus berlari..

Follower