Trauma Fisik dan Kimia pada Rongga Mulut


Linea Alba

Linea alba adalah suatu perubahan yang sering terjadi pada mukosa bukal yang berhubungan dengan adanya penekanan, iritasi friksional akibat gesekan, atau trauma pada bagian muka gigi karena kebiasaan menghisap (sucking trauma). Sesuai dengan namanya, perubahan yang terjadi terdiri atas garis putih yang (biasanya) bilateral. Linea alba terletak pada mukosa bukal setinggi dengan bidang oklusi gigi yang di dekatnya. Garis yang terbentuk lebih terlihat jelas pada mukosa bukal yang berbatasan dengan gigi posterior. Tidak ada terapi yang dibutuhkan dan tidak terdapat komplikasi dari kejadian ini.


Linea alba pada mukosa bukal kanan


Morsicatio Buccarum

Morsicatio berasal dari bahasa latin yang berarti gigitan. Kebiasaan menggigit-gigit kronis bias mengakibatkan terbentuknya lesi yang paling sering terletak di mukosa bukal dan dapat ditemukan juga pada mukosa labial dan batas lateral lidah. Prevalensi morsicatio buccarum lebih tinggi pada orang-orang yang mengalami stress atau dengan masalah psikologis.

Lesi morsicatio buccarum biasanya ditemukan bilateral pada mukosa bukal disertai lesi pada bibir dan lidah, atau bisa juga ditemukan hanya pada bibir atau libal, dah. Lesi yang terbentuk tebal, seperti area parut berwarna putih (tidak rata) yang biasa disertai dengan eritema, erosi, aatau ulserasi fokal traumatik. Mukosa yang mengalami perubahan biasanya terletak di tengah anterior mukosa bukal di sepanjang bidang oklusi. Lesi yang besar bisa terbentuk melebar ke arah atas atau bawah bidang oklusi pada pasien yang memiliki kebiasaan menekan pipi ke arah antara gigi dengan menggunakan jari.

Secara klinis, penampilan morsicatio buccarum cukup untuk menegakkan diagnosis, sehingga biopsi jarang dilakukan. Hasil biopsi pada kasus ini menunjukkan hiperkeratosis yang luas serta dapat ditemukan juga sel bervakuola pada lapisan mukosa. Tidak dibutuhkan penatalaksanaan khusus untuk lesi ini, juga tidak terdapat komplikasi dari perubahan mukosa yang terjadi.

Morsicatio buccarum



Ulkus Traumatik (Traumatik Granuloma)

Ulkus traumatik adalah trauma akut yang terjadi pada mukosa mulut yang diakibatkan oleh kerusakan mekanik seperti kontak dengan makanan yang tajam, tergigit ketika makan, bicara, bahkan tidur. Lesi ini juga bisa terjadi akibat luka bakar benda panas, listrik, atau kimia.

Trauma akut atau kronik mukosa mulut mengakibatkan terjadinya ulkus superficial yang bisa bertahan selama beberapa waktu yang bisa sembuh dalam beberapa hari. Lesi biasa terjadi pada lidah, bibir, dan mukosa bukal. Lesi muncul sebagai area eritema yang mengelilingi daerah tengah berupa membran fibrinopurulen yang berwarna kekuningan.

Sumber ulkus traumatik yang ditemukan harus dihilangkan sumber iritasinya kemudian diberikan dyclonine HCl atau hydroxypropyl cellulose untuk menghilangkan rasa sakit sementara. Jika penyebabnya tidak ditemukan atau pasiennya tidak merespon terapi yang diberikan, maka diindikasikan untuk melakukan biopsi.

Ulkus traumatik



Luka Bakar Elektrik dan Panas

Luka bakar elektrik pada rongga mulut seringkali terjadi. Luka bakar elektrik dibagi menjadi dua macam, yaitu tipe kontak dan tipe arc.

Tipe kontak membutuhkan alas yang sesuai dan arus listrik. Sebagian besar luka bakar elektrik yang mengenai rongga mulut adalah tipe arc, yang melibatkan saliva sebagai media konduksi.

Luka bakar rongga mulut sebagian besar disebabkan oleh makanan atau minuman yang panas. Penggunaan microwave meningkatkan angka kejadian luka bakar panas karena dapat membuat makanan yang dingin dingin di bagian luarnya tetapi sangat panas di bagian dalamnya.

Pada awalnya, luka bakar muncul sebagai area yang tidak nyeri, hangus, dan kekuningan yang disertai dengan sedikit atau bahkan tidak berdarah. Dalam beberapa jam akan muncul edema yang dapat bertahan hingga 12 hari. Pada hari keempat, area tersebut akan mengalami nekrosis dan mulai mengelupas, dan bisa mengeluarkan darah. Luka yang melibatkan makanan yang panas biasanya timbul pada palatum atau mukosa lidah bagian posterior berupa area eritema dan ulserasi yang dapat menyisakan epithelium yang nekrosis pada daerah perifer.

Luka bakar elektrik

Terapi untuk luka bakar pada rongga mulut meliputi imunisasi tetanus dan antibiotik profilaksis (biasanya penisilin) untuk mencegah infeksi sekunder. Masalah utama yang dapat timbul adalah kontraktur pada pembukaan mulut selama proses penyembuhan.


Luka Kimiawi pada Mukosa Oral

Banyak zat kimia dan obat-obatan yang kontak dengan jaringan oral pada akhirnya menimbulkan kerusakan pada jaringan oral. Contoh zat-zat yang dapat mengakibatkan luka pada mukosa oral diantaranya aspirin, sodium perborat, hydrogen peroksida, bensin, terpentin, dan alcohol.

Paparan yang singkat dengan zat-zat tersebut dapat mengakibatkan perubahan mukosa menjadi putih dan keriput. Apabila paparan dilanjutkan, maka akan terjadi nekrosis dan epitel yang terpapar akan terpisah dari jaringan yang berada di bawahnya serta menjadi mudah terkelupas. Bila epitel yang nekrotik tersebut dihilangkan, maka akan terlihat jaringan ikat yang eritem dan berdarah. Area superficial yang nekrosis akan sembuh tanpa luka parut dalam waktu 10 hingga 14 hari setelah agen penyebabnya dihilangkan.

Luka akibat aspirin



Komplikasi Oral Noninfeksius dari Terapi Antineoplastik

Saat ini, belum ada terapi antikanker yang bisa menghancurkan sel keganasan tanpa ikut menghancurkan sel-sel lain yang masih normal. Daerah yang cepat berubah seperti mukosa oral adalah daerah yang rentan terhadap komplikasi ini. Terapi radiasi maupun terapi sistemik dapat mengakibatkan masalah yang berat pada mulut.

Perubahan yang sering ditemukan pada seorang pasien pengobatan kanker, yaitu:

a. Perdarahan

b. Mukositis

c. Dermatitis

d. Xerostomia

e. Kehilangan indera perasa

f. Osteoradionekrosis

g. Trismus

h. Kelainan perkembangan


Xerostomia


Mukosistis

Terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien yang dihadapi. Untuk mukositis, dapat diberikan anestesi, analgesik, dan agen pelapis. Jika terdapat xerostomia dapat diberikan fluoride topical yang digunakan setiap hari


Nekrosis Anestetik

Penggunaan anestesi lokal walaupun jarang dapat mengakibatkan terbentuknya ulkus dan nekrosis pada area injeksi. Nekrosis ini terjadi mungkin akibat adanya iskemia jaringan di sekitar tempat yang diinjeksi, meskipun penyebab pastinya belum diketahui. Teknik yang salah, seperti penggunaan anestesi yang berlebihan ataupun injeksi subposterium sering mengakibatkan kondisi ini.

Kandungan epinefrin yang terdapat dalam berbagai obat anestesi sering disebut-sebut sebagai penyebabnya. Nekrosis yang terjadi biasanya muncul beberapa hari setelah dilakukannya prosedur, dan biasa muncul pada palatum keras. Daerah ulkus yang berbatas jelas akan nampak pada daerah bekas injeksi dan bisanya terbentuk ulkus yang dalam.

Untuk menhindari terjadinya hal yang serupa, untuk pasien yang pernah mengalami nekrosis anestetik sebaiknya menghindari penggunaan anestesi yang mengandung epinefrin di kemudian hari.



Chelitis Eksfoliativa

Kebiasaan menjilat, menggigit, menyedot, dan mencubit bibir dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan terjadinya perubahan yang signifikan pada batas vermillion bibir ataupun pada kulit perioral, sebagian besar dalam bentuk chelitis eksfiloativa.

Chelitis eksfoliativa ini banyak ditemukan pada wanita berusia kurang dari 30 tahun. Kasus yang ringan ditunjukkan dengan adanya kekeringan yang kronis, terbentuknya fissure dan scar pada batas vermillon bibir. Jika berkembang, maka vermillon akan tertutup dengan krusta hiperkeratotik yang menebal dan berwarna kuning. Kulit disekeliling lesi akan membentuk daerah seperti lingkaran yang melingkari bagian bibir tersebut. Kasus ini juga dapat ditimbulkan oleh reaksi alergi ataupun sensitivitas terhadap cahaya, meskipun lebih jarang terjadi. Jika keadaan ini diakibatkan oleh adanya infeksi, maka keadaan ini disebut dengan angular chelitis.

Chelitis eksfoliativa

Pada sebagian besar kasus chelitis eksfoliativa, tidak ditemukan penyebab yang jelas. Biasanya dibutuhkan terapi psikoterapi dan penenang ataupun pencegahan stree untuk mencapai resolusi dari penyakit ini. Pada infeksi candida, lesi ini tidak akan sembuh kecuali jika trauma kronis sudah dihilangkan.



Perdarahan Submukosa

Setiap orang pernah mengalami memar yang diakibatkan oleh trauma minor. Hal ini terjadi ketika trauma tersebut mengakibatkan terjadinya perdarahan dan terkumpulnya darah di dalam jaringan. Jenis-jenis perdarahan berdasarkan ukurannya:

a. Perdarahan sedikit pada kulit, mukosa, atau serosa (ptekia)

b. Perdarahan yang melibatkan area yang sedikit lebih luas (purpura)

c. Akumulasi perdarahan >2 cm (ekimosis)

d. Akumulasi darah dalam jaringan yang memunculkan massa (hematoma)

Trauma benda tumpul pada mukosa oral biasa mengakibatkan terbentuknya hematoma. Ptekia dan purpura dapat timbul apabila terjadi peningkatan tekanan intratoraks yang berulang atau terus-menerus.


Ptekia pada palatum

Perdarahan submukosa muncul sebagai area yang datar atau menonjol, tidak memucat, dengan warna yang bervariasi dari merah, ungu, hingga biru kehitaman. Lesi traumatik ini biasanya terdapat pada mukosa labia atau bukal.

Tidak dibutuhkan terapi spesifik jika perdarahan tidak berkaitan dengan penyakit sistemik dan area perdarahan dapat hilang secara spontan.



Trauma Oral dari Aktivitas Seksual

Lesi yang sering ditemukan pada seks orogenital adalah perdarahan submukosa palatum akibat fellatio. Lesi dapat berupa eritema, ptekia, purpura, atau ekimosis dari palatum lunak. Area luka ini tidak memunculkan gejala dan dapat sembuh tanpa terapi dalam 7-10 hari. Ekstravasasi eritrositik kemungkinan berasal dari kenaikan muskular palatum lunak dan penekanan terhadap lingkungan dengan adanya tekanan negatif.

Lesis oral juga dapat terjadi karena melakukan cunnilungus. Lesi berupa ulkus horizontal dari freulum lidah. Ketika lidah didorong keluar, frenulum tergesek bagian insisal gigi seri mandibula. Lesi ini dapat sembuh, tetapi dapat muncul kembali apabila aktivitas serupa diulangi kembali.



Tato Amalgam

Tato amalgam terlihat berupa makula yang lembut, tidak nyeri, tidak berulkus, berwarna biru/abu-abu/kehitaman tanpa adanya reaksi eritematus di sekelilingnya. Lesi ini banyak ditemukan pada gusi atau mukosa alveolar dan lebih banyak terdapat pada wanita dan usia lanjut. Tato dibatasi oleh mukosa yang diameternya <0,5 cm. Beberapa pasien dapat mengalami respon inflamasi dalam waktu lama dimana terdapat papul kecil atau patch yang luas akibat adanya makrofag.

Tato amalgam



Intoksikasi Metal Sistemik

Intoksikasi metal sistemik dapat terjadi apabila terdapat riwayat memakan atau terpapar beberapa metal berat. Paparan metal berat mungkin dapat bersifat masif karena reaksi akut atau minimal dalam periode yang lebih lama mengakibatkan perubahan kronis.

Berikut ini adalah beberapa metal berat yang dapat mengakibatkan intoksikasi:

a. Timbal

b. Raksa

c. Perak

d. Bismuth

e. Arsenik

f. Emas

Manifestasi oral untuk tiap-tiap metal berbeda satu sama lain. Untuk intoksikasi timbal dapat berupa stomatitis ulkus, dan garis timbal pada gingival, tremor lidah, penyakit periodontal lanjut, hipersalivasi, dan sensasi rasa metal pada lidah.

Intoksikasi raksa ditandai dengan rasa metal di mulut, stomatitis ulkus, inflamasi, pembesaran kelenjar saliva, gusi, dan lidah, serta perubahan warna gusi menjadi biru keabuan hingga hitam.

Intoksikasi perak dan bismuth dapat mengakibatkan diskolorasi rongga mulut, sedangkan intoksikasi arsenic dapat mengakibatkan hipersalivasi dan area nyeri pada stomatitis ulkus yag nekrosis.

Penatalaksanaan untuk intoksikasi metal sistemik menggunakan chelating agent (dimecaprol/BAL, dimercaptosuccinic acid,calcium EDTA, D-penicillamine, dan edathamil). Selain itu, paparan pasien dengan agen-agen yang bersangkutan perlu dibatasi.



Smoker’s Melanosis

Produksi melanin pada mukosa oral perokok merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap zat-zat perusak yang terdapat di dalam rokok.

Smokker’s melanosis biasanya terdapat pada bibir depan mukosa alveolar. Area pigmentasi akan meningkat dalam tahun pertama merokok dan kembali normal setelah berhenti merokok selama 3 tahun. Spesimen biopsi menunjukkan adanya peningkatan pigmentasi melanin di lapisan sel basal pada permukaan epitel seperti makula melanotik.

Smoker’s melanosis

Terapi untuk smoker’s melanosis adalah dengan menghentikan kebiasaan merokok. Pigmentasi akan hilang dalam 3 tahun setelah berhenti merokok.



Diskolorasi Mukosa Oral yang Berhubungan dengan Obat-obatan

Perubahan warna diakibatkan oleh meningkatnya produksi melanin akibat stimulasi dari obat-obatan dan deposisi metabolit obat.

Presentasi klinis dari pigmentasi ini sangat bergantung pada jenis obat yang digunakan. Sebagai contoh, obat malaria atau tranquilizer menimbulkan diskolorasi biru kehitaman yang terbatas pada palatum keras. Estrogen, agen kemoterapi, dan obat-obatan untuk terapi AIDS bisa mengakibatkan melanosis coklat pada kulit dan permukaan mukosa.

Diskolorasi ini tidak menimbulkan masalah jangka panjang. Penghentian obat-obat yang memicu diskolorasi dapat menurunkan secara perlahan area hiperpigmentasinya.



Trauma Osseus dan Metaplasia Kondromatus

Pada pengguna gigi palsu, kelunakan pada jaringan alveolar yang menonjol akibat iritasi mekanis gigi.

Gambaran klinis bervariasi mulai dari area ulkus yang menonjol, kemerahan , bernanah, hingga terbantuk polip yang kuat. Pada pemeriksaan radiografi ditemukan area yang radiopak.



Antral Pseudocysts

Antral pseudocyst merupakan kelainan yang sering ditemukan pada pemeriksaan radiografi panoramik. Lesi ini tampak seperti lesi yang berkubah, sedikit radioopak, dan timbul dari sinus maksila.

Pseudocyst ini biasanya asimtomatik. Antral pseudocyst ini akan membesar, sehingga dindingnya menipis dan membuat tulang menjadi terdesak. Gejala sakit yang timbul akan sangat bervariasi tergantung letak dan ukuran pembesaran serta kerusakan.

Pseudocyst ini sifatnya tidak berbahaya, dan biasanya tidak membutuhkan terapi. Kista yang sesungguhnya harus dikeluarkan karena dapat berkembang dan merupakan lesi yang destruktif.



Emfisema Servikofasial

Adalah masuknya udara ke dalam ruang subkutan atau fasia di wajah dan leher. Udara yang masuk dan tertekan dapat menyebar ke spatium retrofaringeal dan mediastinal. Hal ini dapat diakibatkan oleh:

a. Penggunaan udara yang terkompresi oleh dokter

b. Ekstraksi yang lama dan sulit

c. Peningkatan tekanan intracranial setelah tindakan pembedahan

Perubahan awal yang bisa muncul diantaranya adalah pembesaran jaringan lunak karena terdapat udara di dalamnya. Pasa sakit minimal, dan krepitus mudah dideteksi dengan palpasi

5 komen:

Intan Risna mengatakan...

baguuuss!! baru aja aku kena ulkus traumatik e.c bracket >,< btw, bedanya sm stomatitis aphtosa apa ya gin?

Gina Septiani mengatakan...

hmm.. apa yaa..?? penyebabnya meureun.. kalo yg ini jelas2 karena trauma mukosa oral..

meureun..

hahahaha, nasib gimul cuma 1 minggu.. :p

Unknown mengatakan...

Artikel Bagus sekali

Anonim mengatakan...

artikel sesauai apa yang saya cari.
sblmnya trimakasih skali. saya punya keluhan bibir yaitu chelitis eksfoliatifa sdh 10 tahunan. sangat mengganggu sekali. mungkin artikel bsa sbgai penyalur bantuan , bagaimana cara mengobati sakit saya ini ???

Anonim mengatakan...

mhon kiranya bisa ada yg mmbntu bgaimna penyembuhan penyakit saya terapi ataupun rekomendasi dokter sekitar jawatengah khususnya wonosobo. trimakasih sblmnya.

Posting Komentar

statistika

Entri Populer

Mutiara Illahi

"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayanya adalah ibarat misykat yang didalam misykat itu ada pelita yang besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu laksana bintang yang bercahaya sekilau mutiara. Ia dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh barakah. Pohon zaitun yang tumbuh bukan di timur tidak pula di barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala meski tiada api yang menyentuhnya. Cahaya diatas cahaya! Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Ia kehendaki. Allah membuat perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala."(Q.S. An-Nur 35)

komenkamu


ShoutMix chat widget

inget Allah yuk..

The Traveller..

Foto saya
Manusia biasa yang ingin menjadi luar biasa. Tidak biasa tapi ingin membiasakan diri menulias... Masih kuliah, dan masih agak lama sepertinya untuk lulus.. Tapi yang namanya proses itu harus dinikmati.. So,i enjoy my journey to be a doctor..^^

waktu terus berlari..

Follower