Empat Tahun di Fakultas Kedokteran... Apakah Cukup??

Teringat cerita salah seorang dosen senior di kampus tentang masa kuliahya. Saat itu(pokoknya mah jadul abis…), beliau menghabiskan waktu sekitar 6 tahun untuk meraih gelar dokter-mudanya(baca: S.Ked). Beuh…lama bener ya, kalau dipikir-pikir… Keburu menjamur di FK.. Belum lagi program P3D yang harus dilalui setelahnya alias ko-asistensi… Benar-benar terasa perjuangannya..

Sekarang, untuk angkatan saya, butuh waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran. Ditambah dua tahun ko-as+magang di puskesmas atau rumah sakit jejaring. Dan untuk angkatan 2008, hanya butuh waktu 3,5 tahun untuk bisa angkat kaki dari FK Jatinangor kemudian 2,5 tahun ko-as plus magang di RSHS dan jejaringnya. Pertanyaan yang muncul,,

”Apakah cukup waktu 4 tahun untuk menguasai dasar-dasar ilmu kedokteran sebelum memasuki dunia praktis???

Saya merasa 4 tahun sangat-sangat tidak cukup untuk menamatkan min. Buku-buku referensi utama, dengan jumlah textbook yang bejibun dan kesibukan lain yang tak terelakkan. Bukan berarti saya ingin lebih lama di FK sih, tapi saya jadi berfikir, apakah ini semua semata-mata hanya atas dasar keterburu-buruan untuk mencetak dokter-dokter baru? Kadang jadi khawatir, apakah kualitas dokter-dokter generasi baru akan bisa mengimbangi kualitas dokter-dokter senior??

Sebenarnya kalau secara keilmuan, jelas tidak bisa disandingkan antara dokter senior dengan juniornya. Karena jam terbang dalam dunia kedokteran praktis memengaruhi tingkat ketahuannya akan ilmu kedokteran. Mungkin, bedanya terletak pada kedalaman ilmu yang bisa dicapai oleh beda generasi ini.

Zaman dulu, seorang mahasiswa kedokteran dijejali dengan ilmu-ilmu dasar di tahun-tahun S1nya. Biokimia, Fisika, biologi, anatomi, faal, patologi, dll semuanya dipelajari dengan mendalam dalam waktu yang lebih panjang jika dibandingkan dengan angkatan saya sekarang. Bedanya yang lain, terletak pada integrasi dari masing-masing ilmu yang dipelajari itu. Jaman baheula, seorang calon dokter baru akan disuguhi dengan kondisi yang mengharuskan mereka berpola pikir layaknya dokter setelah mereka menghabiskan 6 tahunnya di pendidikan sarjana alias saat mereka ko-asistensi. Sekarang, kami harus menerapkan pola pikir seorang dokter ini sejak kali pertama kami menjejakkan kaki di Fakultas Kedokteran. Artinya, kami memang sejak awal dibiasakan berpikir seperti seorang dokter yang sedang berusaha menyembuhkan pasien yang datang dengan berbagai keluhan. Ada baiknya juga sih, pengenalan sejak dini. Karena itu akan membentuk pola pikir “I have to know why..” dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan provokatif “mengapa begini? Mengapa begitu?”. Tapi, sistem seperti ini saya nilai terlalu dini jika benar-benar diperkenalkan sejak tahun pertama. Karena, basic kami di dunia kedokteran benar-benar masih NOL BESAR dan akhirnya malah sering menimbulkan kebingungan yang luar biasa di tahun pertama saya.

mini-bronze-love-of-learning-melissa-cowan

Terlepas dari itu semua, pertanyaan “Apakah empat tahun cukup?” sepertinya menjadi sangat kondisional, mengingat sistem yang kami gunakan pun jelas berbeda dengan yang “dianut” oleh dosen-dosen senior kami di kampus. Tapi, buat saya, jelas empat tahun tidak cukup untuk bisa mendalami ilmu kedokteran secara holistik. Maka dari itu, saya baru sadari sekarang betapa pentingnya prinsip “Long Life Learning” yang sudah diperkenalkan sejak kami menjalani masa orientasi. Empat tahun, delapan tahun, bahkan dua puluh tahun sekalipun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan rasa haus ilmu para dokter. Karena, bukankah ilmu Allah sangat luas?? Tiap hari, bahkan, ilmu itu terus berkembang. Dan di dunia kedokteran sendiri, setiap harinya muncul ribuan jurnal baru yang harus terus diupdate oleh seorang dokter untuk mengupdate imunya.

Hmm…interesting, but sometimes it makes me afraid. Bertanya-tanya apakah saya mampu untuk menjadi seorang Long Life Learner atau tidak?? Apakah saya bisa menjadi seorang dokter yang pintar luar biasa dan berperilaku sangat baik dalam menangani pasien atau tidak? Wallahu a’lam bishshawab. Semoga bisa terus maju dalam menapaki jalan ini. Heu..

0 komen:

Posting Komentar

statistika

Entri Populer

Mutiara Illahi

"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayanya adalah ibarat misykat yang didalam misykat itu ada pelita yang besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu laksana bintang yang bercahaya sekilau mutiara. Ia dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh barakah. Pohon zaitun yang tumbuh bukan di timur tidak pula di barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala meski tiada api yang menyentuhnya. Cahaya diatas cahaya! Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Ia kehendaki. Allah membuat perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala."(Q.S. An-Nur 35)

komenkamu


ShoutMix chat widget

inget Allah yuk..

The Traveller..

Foto saya
Manusia biasa yang ingin menjadi luar biasa. Tidak biasa tapi ingin membiasakan diri menulias... Masih kuliah, dan masih agak lama sepertinya untuk lulus.. Tapi yang namanya proses itu harus dinikmati.. So,i enjoy my journey to be a doctor..^^

waktu terus berlari..

Follower